Penulis: Dra. Tisara MS, Guru Ahli Madya pada SMA Negeri 1 Krueng Barona Jaya, Aceh Besar.
LINEAR.CO.ID | BANDA ACEH – Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Spanduk dipasang, pidato dibacakan, seminar digelar, dan media sosial dipenuhi ucapan tentang pentingnya pendidikan. Nama Ki Hadjar Dewantara kembali disebut sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Namun di balik seluruh seremoni itu, ada pertanyaan besar yang seharusnya mengguncang nurani kita bersama : apakah pendidikan Indonesia benar-benar sedang baik-baik saja?
Bagi sebagian guru yang masih bertahan dengan idealisme dan hati nurani, Hardiknas sering kali terasa bukan sebagai perayaan, melainkan refleksi yang menyakitkan. Sebab di ruang-ruang kelas hari ini, banyak guru tidak lagi hanya menghadapi tantangan mengajar, tetapi juga menghadapi krisis karakter, krisis moral, dan krisis kesadaran belajar pada peserta didik.
Guru datang dengan kesungguhan. Menyiapkan materi, mendidik dengan sabar, memberi tugas agar siswa belajar bertanggung jawab, bahkan berusaha menjadi orang tua kedua di sekolah. *Namun yang sering ditemui justru sikap acuh, malas belajar, tidak disiplin, dan rendahnya penghormatan terhadap ilmu.* Banyak siswa datang ke sekolah sekadar menjalani rutinitas formal, bukan untuk mencari pengetahuan. Sekolah dipandang hanya sebagai tempat berkumpul, tempat memperoleh uang jajan, atau sekadar syarat mendapatkan ijazah.
Yang lebih menyedihkan, ketika guru mencoba menegakkan disiplin dan memberi sanksi edukatif, justru guru yang sering menjadi korban. Guru dilaporkan, diancam, bahkan dipersepsikan sebagai pihak yang bersalah. Akibatnya, banyak guru akhirnya memilih diam, mengalah, dan kehilangan keberanian moral dalam mendidik karakter siswa.
Padahal pendidikan sejatinya bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan. Pendidikan adalah proses membentuk manusia. Ki Hadjar Dewantara pernah menegaskan bahwa pendidikan bertujuan “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.”Artinya, pendidikan bukan hanya mencetak siswa pintar secara akademik, tetapi juga membangun manusia yang beretika, berdisiplin, bertanggung jawab, dan beradab.
Persoalannya, bangsa ini perlahan sedang kehilangan orientasi pendidikan itu sendiri. Sekolah terlalu sibuk mengejar angka, nilai, dan kelulusan administratif, tetapi melupakan pembentukan karakter. Pendidikan akhirnya lebih banyak menghasilkan generasi yang akrab dengan teknologi, tetapi asing dengan etika; cepat mengakses informasi, tetapi miskin tanggung jawab; berani menuntut hak, tetapi enggan menjalankan kewajiban.
Fenomena ini tentu tidak sepenuhnya kesalahan siswa. *Ada faktor sosial yang turut membentuknya. Keluarga banyak yang mulai kehilangan fungsi pendidikan pertama.* Orang tua sibuk bekerja dan menyerahkan seluruh proses pembentukan karakter kepada sekolah. Sementara media sosial menghadirkan budaya instan, hedonisme, dan rendahnya daya juang. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang memanjakan, tetapi minim keteladanan.
Di sisi lain, negara juga belum sepenuhnya menempatkan guru sebagai pilar utama peradaban. Guru dituntut menghasilkan generasi unggul, tetapi sering dibebani administrasi yang melelahkan. Guru diminta mendidik karakter, tetapi kewenangannya dalam mendisiplinkan siswa semakin dibatasi. Ironisnya, penghormatan terhadap profesi guru juga perlahan mengalami degradasi sosial.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang lahir bukan generasi emas, melainkan lost generation—generasi yang kehilangan arah, kehilangan daya juang, dan kehilangan karakter kebangsaan. Bangsa tidak akan runtuh karena kekurangan gedung sekolah atau teknologi canggih. Bangsa runtuh ketika generasi mudanya kehilangan moral, etika, disiplin, dan semangat belajar.
Karena itu, Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Hardiknas harus menjadi momentum evaluasi nasional tentang arah pendidikan kita. Sudahkah sekolah menjadi tempat membangun karakter? Sudahkah keluarga menjadi rumah pertama pendidikan moral? Sudahkah negara benar-benar melindungi guru dalam menjalankan tugas mendidik?
Pendidikan tidak cukup hanya dengan kurikulum yang berubah-ubah. Pendidikan membutuhkan keteladanan, ketegasan, kedisiplinan, dan keberanian moral bersama. Guru tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Orang tua, masyarakat, dan pemerintah harus kembali berdiri bersama untuk menyelamatkan generasi bangsa.
Sebab masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh megahnya gedung sekolah, tetapi oleh kualitas karakter anak-anak yang hari ini duduk di bangku pendidikan. Jika mereka kehilangan semangat belajar dan adab terhadap ilmu, maka sesungguhnya bangsa ini sedang berjalan menuju krisis peradaban.
Dan ketika guru mulai kehilangan harapan di ruang kelas, sesungguhnya negara sedang berada dalam keadaan yang sangat berbahaya.



