Subulussalam
Beranda | Puluhan Mata Jurnalis Tatap Layar Film Pesta Babi di Subulussalam

Puluhan Mata Jurnalis Tatap Layar Film Pesta Babi di Subulussalam

LINEAR.CO.ID | SUBULUSSALAM – Puluhan Jurnalis yang di beri nama Aliansi Jurnalis Subulussalam (AJS) bersama komunitas lainnya, menggelar nonton bareng film dokumenter yang berjudul Pesta Babi karya Dandhy Laksono, Jumat, (15/5/2026).

Berlangsungnya nonton bareng ini, bertepat di warung cofe Mesada, depan Kantor Satpol-PP dan WH Kota Subulussalam. Selama 95 menit, mereka terus menatap layar, menyaksikan secara langsung apa yang terjadi di Papua yang disampaikan dalam Film dokumenter Pesta Babi.

Menurut Ardhiyanto Ujung anggota DPRK Subulussalam, Film tersebut menceritakan masyarakat lokal disana telah memperjuangkan hak adat mereka dan film dokumenter Pesta Babi itu dinilainya sangat bagus untuk ditontonkan.

Sedangkan Imum Mukim Batu-Batu Saidiman Sambo menyampaikan, Film dokumenter Pesta Babi, merupakan adat lokal disana. Dalam film tersebut lanjutnya, yang disajikan bukan berpesta babi saja. Melainkan, mereka menyampaikan keluhan yang dirasakan mereka di Papua saat ini, dikarenakan akan hilangnya hutan adat mereka.

Menurut Hikmah Caniago perwakilan mengatakan, pentingnya peran perempuan untuk menjaga hutan adat. Tidak hanya di Papua, khususnya juga di Kota Subulussalam.

HIMASOS FISIP Unimal dan HIMDES Gelar Aksi Bersih Pantai di Ujung Bate

“Saya ikut menyaksikan film ini lebih mengampanyekan lahan sawit itu dikelola oleh masyarakat setempat. Bukan karena pembukaan hutan yang besar. Saya sangat senang bisa menyaksikan film Pesta Babi ini, karena adanya peran perempuan yang sangat penting untuk berusaha memperjuangkan hutan adatnya hingga ke Mahkamah Konsitusi,” katanya.

Dikutip dalam film tersebut, menceritakan proyek strategis pemerintah dalam swasembada pangan di 4 Presiden belakangan ini. Mirisnya, di era pemerintahan saat ini menghilangkan tutupan hutan di Papua hingga 2,5 Juta hektare.

Bagi rakyat Papua, hutan adat tersebut suatu hal yang harus dijaga. Karena, hutan disana tempat mereka dibesarkan, memberi mereka makan dan adanya adat lokal yang mereka junjung tinggi selama ini. (*)

ร—
ร—