LINEAR.CO.ID | MEDAN – Integritas dan akurasi menjadi tantangan penting bagi insan pers di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Wartawan dituntut mampu memanfaatkan teknologi tanpa mengabaikan prinsip verifikasi dan independensi dalam menghasilkan berita.
Isu tersebut mengemuka dalam kegiatan Media Edukasi dan Gathering 2026 yang diselenggarakan PT Medco E&P Malaka bersama Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) di Medan, 29–30 Oktober 2026.
Kegiatan ini diikuti 33 wartawan dari 21 organisasi pers di Kabupaten Aceh Timur. Selain membahas perkembangan teknologi dalam dunia jurnalistik, pertemuan tersebut juga menjadi ruang dialog mengenai etika pers dan peran industri hulu minyak dan gas bumi (migas) dalam pembangunan ekonomi Aceh.
Ahli Dewan Pers sekaligus Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Pusat, Nurcholis Basyari, menekankan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh menggeser tanggung jawab wartawan dalam memastikan kebenaran informasi.
Menurutnya, AI dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses jurnalistik, tetapi tidak dapat mengambil alih tanggung jawab manusia untuk memeriksa fakta dan mematuhi kode etik.
“Integritas, verifikasi fakta, dan kode etik tetap fondasi utama yang tidak dapat digantikan mesin,” kata Nurcholis.
Ia mengingatkan, penggunaan teknologi dalam kegiatan jurnalistik harus tetap disertai sikap kritis agar informasi yang disampaikan kepada publik dapat dipertanggungjawabkan.
Selain persoalan etika dan teknologi, kegiatan tersebut turut membahas pentingnya pemahaman publik terhadap sektor industri hulu migas.
Deputi Dukungan Bisnis BPMA, Edy Kurniawan, menyampaikan bahwa industri hulu migas memiliki kontribusi strategis bagi perekonomian Aceh sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan energi nasional.
Menurut Edy, penyampaian informasi yang lengkap dan akurat diperlukan agar masyarakat memahami peran serta perkembangan industri tersebut.
“Industri hulu migas berperan penting bagi perekonomian Aceh dan industri domestik. Karena itu, informasi tentang industri ini perlu disampaikan agar masyarakat dan pemangku kepentingan memahaminya secara utuh,” ujarnya.
Sementara itu, Senior Manager Communications Medco E&P, Leony Lervyn, menilai komunikasi yang terbuka dengan media merupakan salah satu upaya membangun hubungan yang baik dengan para pemangku kepentingan.
Ia mengatakan, kemitraan dengan insan pers perlu dijaga melalui komunikasi yang konstruktif, tanpa mengurangi kebebasan dan independensi media dalam menjalankan tugas jurnalistik.
“Kami ingin komunikasi yang terbuka dan konstruktif, dengan tetap menjunjung independensi jurnalistik,” kata Leony.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para wartawan juga memperoleh pembekalan mengenai etika bermedia sosial serta peran media dalam mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Materi disampaikan oleh Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Timur, Dr. Darmawan M. Ali, dan konten kreator Juju Onyols.
Kegiatan itu turut dihadiri Manager Field Relations & Security Block A, Maulidar Putra.
Melalui kegiatan Media Edukasi dan Gathering 2026, Medco E&P Malaka dan BPMA berharap hubungan komunikasi dengan insan pers semakin erat. Kemitraan tersebut diharapkan dapat mendukung penyebaran informasi yang akurat, berimbang, serta memberikan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat mengenai industri hulu migas dan isu-isu yang berkaitan dengan kepentingan publik.


