LINEAR.CO.ID | SUBULUSSALAM – Masyarakat Kampong Lae Saga, Kecamatan Longkib, Kota Subulussalam. Secara resmi menyatakan penolakan keras terhadap segala bentuk pencatutan nama Kampong mereka dalam perkara penyerobotan lahan yang tengah menjadi sorotan publik, Kamis, (1/10/26).
Prosesi penyampaian sikap oleh warga Kampong Lae Saga ini berlangsung pada Rabu 30 September 2026 di kediaman warga, Dusun Gunung Merapi, Kampong Lae Saga.
Seperti yang disampaikan Sutrisno warga yang merasa nama baik pemukiman mereka disalahgunakan oleh oknum tertentu untuk melegitimasi tindakan ilegal yang tidak pernah mendapatkan persetujuan dari masyarakat setempat.
Sutrisno selaku perwakilan warga mengatakan bahwa tindakan ini tidak hanya merugikan secara administratif, tetapi juga mengancam ketenangan sosial di lingkungan mereka saat ini.
“Kami tegaskan sekaligus menekankan terkait Aksi penyerobotan lahan sama sekali tidak terlibat dalam proses pemindahtanganan atau klaim lahan yang saat ini sedang dipersengketakan,” ujar Sutrisno disaksikan puluhan warga Lae Saga.
Warga Lae Saga ini juga menuntut agar pihak-pihak terkait segera menghentikan penyebutan nama Kampong Lae Saga dalam aktivitas penyerobotan lahan yang tuai kontroversi tersebut.
“Langkah ini kami ambil sebagai bentuk perlindungan terhadap hak kami. Lantaran, seluruh warga yang terlibat pada masa itu, telah menerima ganti rugi rintisan pada tahun 2012 lalu,” kata Sutrisno.
Tidak hanya itu, Masyarakat Lae saga yang tergolong dari anggota Badan Permusyawaratan Kampong (BPK) serta beberapa Kepala Dusun di Kampong Lae Saga juga meminta agar Aparat Penegak Hukum (APH) dan instansi terkait untuk menelusuri motif di balik penggunaan nama Kampong mereka secara sepihak agar tidak ada lagi informasi simpang siur yang berkembang terkait penyerobotan lahan.
“Kami tetap berkomitmen untuk menjaga integritas wilayah kami dari segala bentuk praktik mafia tanah. Kami sangat berharap agar kasus ini segera diselesaikan dengan mengedepankan fakta hukum yang benar tanpa harus mengorbankan identitas Kampong kami,” tandas Sutrisno. (*)


