LINEAR.CO.ID | ACEH BARAT DAYA – Saluran irigasi beton yang seharusnya menjadi urat nadi penghidupan ribuan hektar lahan pertanian ini kini tampak lesu dan tak berdaya. Memanjang lurus menembus hamparan sawah, aliran air yang tersisa hanya dangkal dan keruh, tak lagi cukup deras untuk memenuhi kebutuhan tanah yang haus.
Bebatuan dan sisa sampah tampak tersangkut di sepanjang dasar saluran, seolah menjadi saksi bisu atas perlahan menyusutnya sumber kehidupan ini.
Tepiannya dipenuhi rumput kering yang menguning, tumbuh liar di sela-sela dinding beton yang mulai menua, mencerminkan kondisi alam yang perlahan kehilangan kesegarannya.
Di atas tanggul itu, seorang petani berdiri tenang namun penuh tanya, diiringi sekumpulan sapi yang melangkah pelan menyeberangi jalan setapak.
Di hadapannya terbentang luas hamparan tanah yang telah dibalik dan digarap, namun belum menerima cukup air untuk menjadi tempat tumbuhnya bibit padi. Tanah itu tampak gersang, berwarna gelap namun kering, menanti cairan kehidupan yang kini makin sulit didapatkan.
Langit di atasnya tertutup awan tipis yang bergerak lambat, menyisakan langit yang suram tanpa janji hujan yang segera turun.
Lebih jauh memandang ke seberang, pemandangan yang terlihat semakin mempertegas ketegangan yang melanda kawasan ini.
Hamparan lahan yang baru selesai dibajak terhampar luas, permukaannya bergelombang dan berlumpur namun hanya memiliki genangan air yang sangat sedikit, terpisah-pisah seperti pulau-pulau kecil di tengah hamparan tanah yang mulai mengeras.
Sebagian besar tanah itu terlihat kering dan retak, kehilangan kelembapan yang seharusnya ada di awal musim tanam.
Jauh di tengah lahan itu, terlihat sosok kecil seseorang yang berjalan perlahan, memeriksa setiap sudut tanah yang menjadi tumpuan harapan keluarganya, berusaha mencari sisa-sisa kelembapan atau aliran air yang mungkin masih tersisa.
Di ufuk barat, matahari mulai merendah di balik gumpalan awan tebal yang berwarna kelabu dan kemerahan, menyebarkan cahaya samar yang menimpa lahan gersang itu, menciptakan suasana senja yang indah namun menyimpan keprihatinan mendalam.
Keindahan langit sore itu seakan kontras dengan kekhawatiran yang terasa di udara, mengingat semakin menipisnya persediaan air dan semakin mendesaknya kebutuhan akan turunnya hujan untuk menyelamatkan musim tanam tahun ini.
Di Lembah Sabil, setiap genangan air dan setiap petak tanah kini menjadi sangat berharga. Alam seakan sedang menguji ketabahan para petani, di mana kerja keras mengolah tanah harus berhadapan dengan kenyataan pasokan air yang tak lagi mencukupi.
Kekeringan tidak hanya menyentuh tanah, namun perlahan menyentuh harapan yang ditanamkan di dalamnya, menjadikan setiap hari penantian menjadi semakin berat dan penuh harap akan kembalinya keseimbangan alam yang menyejukkan.



