LINEAR.CO.ID | BANDA ACEH – Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Aceh mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan panic buying dalam pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) di tengah dinamika informasi global yang berkembang saat ini, termasuk terkait isu konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang memunculkan kekhawatiran di masyarakat mengenai ketahanan energi. Momentum bulan suci Ramadhan seharusnya tetap menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga ketenangan dan stabilitas sosial, termasuk dalam menyikapi isu ketersediaan energi.
Presiden DEM Aceh, Faizar Rianda, menyampaikan bahwa perilaku pembelian BBM secara berlebihan berpotensi menimbulkan gangguan terhadap stabilitas distribusi energi di tingkat hilir. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), tetapi juga berpotensi menciptakan persepsi kelangkaan yang tidak proporsional di tengah masyarakat.
Selain itu, DEM Aceh turut menyoroti indikasi adanya praktik pembelian BBM dalam jumlah besar menggunakan jerigen, sebagaimana terlihat dari beberapa video yang beredar di media sosial. Fenomena tersebut dinilai berpotensi mengarah pada praktik penimbunan maupun penyalahgunaan distribusi BBM.
“Perlu dipahami bahwa tindakan penimbunan atau penyalahgunaan BBM merupakan pelanggaran terhadap ketentuan hukum yang berlaku. Dalam Pasal 55 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi secara tegas mengatur larangan penyalahgunaan dalam kegiatan pengangkutan dan/atau niaga BBM yang tidak sesuai dengan peruntukannya,” ujar Faizar Rianda.
Lebih lanjut, DEM Aceh menilai bahwa situasi ini memerlukan respons yang cepat, terukur, dan terkoordinasi dari pemerintah serta para pemangku kepentingan sektor energi guna menjaga stabilitas distribusi BBM di tengah masyarakat. Oleh karena itu,
DEM Aceh mendorong pemerintah daerah bersama pihak terkait untuk mengambil langkah-langkah strategis, antara lain:
1. Melakukan sosialisasi dan komunikasi publik secara intensif kepada masyarakat mengenai kondisi distribusi dan ketersediaan BBM guna mencegah munculnya kepanikan yang tidak berdasar.
2. Memperkuat pengawasan terhadap rantai distribusi BBM, khususnya untuk mengantisipasi praktik penimbunan maupun penyalahgunaan distribusi oleh oknum tertentu.
3. Meningkatkan koordinasi antara pemerintah daerah, operator SPBU, dan pihak penyedia BBM guna memastikan kelancaran pasokan serta distribusi energi di tingkat masyarakat.
4. Menyediakan kanal informasi resmi secara berkala agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat terkait kondisi pasokan dan distribusi BBM.
5. Mengoptimalkan pengawasan di lapangan, termasuk pembatasan pembelian BBM menggunakan jerigen apabila tidak disertai dengan izin atau peruntukan yang jelas.
Dalam konteks ini, DEM Aceh juga mengajak masyarakat untuk bersikap rasional dan bijak dalam melakukan pembelian BBM, dengan memperhatikan beberapa hal berikut:
1. Tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan (panic buying)
2. Membeli BBM sesuai dengan kebutuhan penggunaan sehari-hari
3. Tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar sumbernya
Faizar Rianda juga menjelaskan bahwa informasi mengenai angka ketahanan stok BBM yang disampaikan pemerintah tidak boleh disalahartikan oleh masyarakat.
“Angka ketahanan stok BBM yang sering disampaikan pemerintah pada dasarnya merupakan perhitungan apabila pasokan energi benar-benar terhenti secara total. Artinya, stok tersebut masih mampu menopang kebutuhan dalam jangka waktu tertentu. Namun pada kondisi saat ini, distribusi dan pasokan BBM masih berada dalam keadaan normal dan tetap berjalan,” jelas Faizar.
Di sisi lain, DEM Aceh juga berharap aparat keamanan bersama pihak pengelola SPBU dapat berperan aktif dalam menjaga ketertiban selama berlangsungnya antrean BBM, sehingga tidak menimbulkan kemacetan maupun gangguan terhadap aktivitas masyarakat.
“Dalam situasi seperti ini, kehadiran aparat keamanan sangat penting untuk memastikan pengaturan antrean di SPBU berjalan tertib dan tidak menimbulkan kemacetan di ruas jalan. Hal ini menjadi semakin relevan mengingat tingginya mobilitas masyarakat selama bulan suci Ramadhan,” tambah Faizar.
DEM Aceh berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersikap bijak dalam menyikapi kondisi ini serta mengedepankan kepentingan bersama agar stabilitas distribusi energi tetap terjaga dan kebutuhan BBM masyarakat dapat terpenuhi secara berkelanjutan.


