Nasional

Pangdam Jaya Sebut Amunisi Kedaluwarsa Penyebab Kebakaran Gudang Amunisi Kodam Jaya di Ciangsana

49
×

Pangdam Jaya Sebut Amunisi Kedaluwarsa Penyebab Kebakaran Gudang Amunisi Kodam Jaya di Ciangsana

Sebarkan artikel ini
kedaluwarsa
Kebakaran Gudang Amunisi Kodam Jaya, Ciangsana, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

LINEAR.CO.ID | JAKARTA – Mayor Jenderal TNI Mohamad Hasan, Pangdam Jaya, menyatakan bahwa kebakaran di Gudang Amunisi Daerah (Gudmurah) Kodam Jaya disebabkan oleh gesekan pada amunisi yang telah kedaluwarsa. Diduga, ledakan gudang diduga terjadi akibat proses kimia pada amunisi tersebut.

“Ledakannya terjadi di gudang penyimpanan amunisi yang sudah kedaluwarsa,” kata Hasan di sekitar kawasan gudang amunisi, Ciangsana, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, seperti dilansir dari tempo.co, Senin, (01/04/2024).

Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menyebutkan amunisi yang meledak dalam kejadian kebakaran di Ciangsana berjumlah 65 ton yang merupakan gabungan dari beberapa satuan di Kodam Jaya.

“Amunisi yang SOP-nya (Standar Operasional Prosedur) sudah expired itu dikembalikan ke Kodam Jaya, dikumpulkan untuk diperiksa lagi, diverifikasi, ada langkah-langkah itu hingga akhirnya di-disposal (dibuang). Disposal itu di Pameungpeuk (Kabupaten Garut, Jawa Barat), kami punya tempat,” ujarnya.

Kendati demikian, Agus belum bisa merinci total kerugian negara imbas kebakaran dan ledakan 65 ton amunisi kedaluwarsa itu.

Satuan Teritorial juga telah mendata dan memeriksa kemungkinan adanya amunisi yang terlempar ke pemukiman di sekitar lokasi ledakan gudang amunisi itu. “Diharapkan apabila masyarakat menemukan serpihan atau selongsong, agar melaporkan ke aparat,” ujar Agus.

Tentang penyebab kebakaran dan ledakan, Agus menduga amunisi kedaluwarsa lebih sensitif untuk meledak. Pasalnya, baik gesekan maupun gerakan pada amunisi yang kedaluwarsa dapat menyebabkan ledakan.

Menurut Panglima TNI, masa berlaku amunisi maksimal 10 tahun. Setelah itu, sebagaimana SOP, amunisi kedaluwarsa harus dikembalikan ke Kodam Jaya. Dia mengklaim bahwa TNI telah melakukan mitigasi apabila terjadi ledakan di gudang, misalnya membangun tempat penyimpanan di bawah tanah dan relatif jauh dari pemukiman warga.

“Jadi, di bawah tanah, karena labil, sewaktu-waktu bisa meledak, lalu ada tanggul,” ucapnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *