LINEAR.CO.ID| ACEH BARAT DAYA – Petani di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengeluhkan proses distribusi pupuk subsidi yang semakin bergantung pada koneksi sistem digital.
Gangguan jaringan yang kerap terjadi memicu antrean panjang dan kerumunan di tingkat distributor, bahkan membuat sebagian petani tidak memperoleh pupuk meski telah terdaftar sebagai penerima.
Petani menyebut, persoalan utama muncul ketika stok pupuk sudah tersedia, namun sistem pendataan dan verifikasi penerima tidak dapat diakses. Kondisi itu membuat proses pembelian terhenti hingga jaringan kembali normal.
“Saat kami tahu pupuk sudah datang, kami langsung ke distributor untuk membeli. Tetapi pupuk tidak bisa keluar karena sistem tidak bisa diakses. Begitu jaringan kembali normal, semua petani datang bersamaan sehingga terjadi kerumunan,” kata Asnawi seorang petani di Kecamatan Blangpidie, Jum’at (12-6-2026).
Menurutnya, gangguan sistem membuat petani harus meninggalkan pekerjaan di sawah untuk menunggu kepastian kapan layanan kembali berjalan.
Mereka kerap menghabiskan waktu berjam-jam di lokasi distributor sambil menunggu jaringan pulih.
Ketika akses kembali normal, para petani langsung berdatangan secara bersamaan untuk mendapatkan pupuk subsidi. Situasi tersebut memicu antrean panjang dan kerumunan yang sulit dihindari.
Tingginya jumlah petani yang datang dalam waktu yang hampir bersamaan membuat stok pupuk cepat habis.
Akibatnya, sebagian petani terpaksa pulang tanpa membawa pupuk meski nama mereka sudah tercatat sebagai penerima.
Petani menilai kondisi tersebut justru menyulitkan mereka. Selain mengganggu aktivitas di lahan pertanian, persoalan jaringan juga menimbulkan ketidakpastian dalam memperoleh pupuk yang sangat dibutuhkan pada musim tanam.
Mereka berharap pemerintah dan pihak terkait segera mencari solusi agar distribusi pupuk subsidi tidak sepenuhnya bergantung pada kestabilan jaringan.
Petani juga meminta adanya mekanisme alternatif ketika sistem mengalami gangguan sehingga penyaluran pupuk tetap berjalan dan tidak memicu antrean panjang maupun kerumunan.
Menurut Asnawi, ketersediaan pupuk tidak akan memberi manfaat maksimal apabila proses distribusinya masih terkendala akses sistem yang tidak stabil.
“Kami petani berharap perbaikan segera dilakukan agar kebutuhan pupuk dapat terpenuhi tepat waktu dan aktivitas pertanian tidak terganggu,” pungkasnya.



