LINEAR.CO.ID | ACEH BARAT DAYA – Wakil Bupati Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Zaman Akli, melontarkan kritik keras terhadap kinerja sejumlah pejabat di lingkungan pemerintah kabupaten setempat.
Ia menilai perilaku para pejabat tersebut sudah sangat keterlaluan, tidak profesional, dan memalukan, sehingga perlu segera disikapi secara tegas.
Pernyataan tersebut disampaikan Zaman Akli dalam rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Abdya, Kamis (2-4-2026).
Agenda rapat tersebut meliputi pembukaan pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Pemerintah Kabupaten Abdya Tahun Anggaran 2025 serta penyampaian hasil reses pimpinan dan anggota DPRK Abdya Tahun 2026.
Di hadapan unsur pimpinan dan anggota dewan serta para kepala Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK), Zaman Akli secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya terhadap pola kerja sejumlah pejabat yang dinilainya tidak konsisten.
Menurutnya, banyak pejabat yang cenderung hanya menunjukkan kinerja saat berada dalam pengawasan langsung pimpinan daerah.
Ia menegaskan, fenomena tersebut memperlihatkan adanya perbedaan mencolok dalam etos kerja para pejabat, tergantung pada ada atau tidaknya bupati di tempat.
” Ketika bupati berada di lokasi, para pejabat terlihat sibuk dan aktif seolah-olah bekerja tanpa henti. Namun, kondisi tersebut berbanding terbalik ketika bupati tidak berada di tempat,” tegasnya.
Ditegaskannya, situasi tersebut tidak bisa lagi ditoleransi.
“Perilaku semacam itu tidak hanya mencerminkan rendahnya komitmen terhadap tugas dan tanggung jawab, tetapi juga mencoreng citra pemerintahan daerah di mata publik,” katanya.
Sebagai aparatur negara, para pejabat seharusnya menunjukkan integritas, disiplin, dan profesionalisme dalam menjalankan amanah, bukan bekerja berdasarkan situasi atau pengawasan semata.
Selain menyoroti inkonsistensi kinerja, Zaman Akli juga mengkritik sikap sebagian pejabat yang dinilai tidak menghargai forum resmi pemerintahan.
Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap banyaknya kepala SKPK yang tidak menghadiri rapat paripurna tanpa alasan yang jelas.
โBahkan perwakilan pun tidak diutus untuk hadir. Ini pemandangan apa? Seperti hari ini, banyak kepala SKPK yang tidak hadir. Dewan yang merupakan representasi rakyat saja tidak hadir, siapa lagi yang mereka hargai?โ tegasnya.
Ia menilai ketidakhadiran tersebut bukan sekadar persoalan absensi, melainkan mencerminkan rendahnya rasa tanggung jawab serta kurangnya penghormatan terhadap lembaga legislatif sebagai mitra strategis pemerintah daerah.
Dalam kesempatan itu, Zaman Akli juga memberikan peringatan tegas kepada para pejabat yang merasa tidak mampu menjalankan tugas dengan baik.
Secara terbuka ia mempersilakan mereka untuk mengundurkan diri daripada mempertahankan jabatan tanpa kontribusi maksimal.
โKalau ada pejabat yang merasa jabatan yang diberikan itu terlalu berat, saya minta buat surat mundur. Mundur saja,โ ujarnya dengan tegas.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya tidak akan mentoleransi kinerja yang setengah hati, apalagi sikap tidak disiplin di kalangan pejabat.
Zaman Akli menekankan bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, bukan sekadar status atau posisi.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa masyarakat menaruh harapan besar kepada pemerintah daerah untuk memberikan pelayanan terbaik.
Oleh karena itu, setiap pejabat dituntut untuk bekerja secara profesional, transparan, dan akuntabel, tanpa bergantung pada kehadiran pimpinan semata.
โJangan hanya bekerja kalau ada yang mengawasi. Kita ini pelayan masyarakat, bukan pelayan atasan saja,โ imbuhnya.
Rapat paripurna tersebut sendiri berlangsung dalam suasana yang cukup serius, menyusul berbagai sorotan terhadap kinerja pemerintah daerah dalam laporan LKPJ tahun 2025.
Sejumlah anggota DPRK juga turut menyoroti berbagai persoalan pembangunan dan pelayanan publik yang dinilai masih perlu pembenahan.
Kritik keras yang disampaikan Wakil Bupati ini diharapkan menjadi momentum evaluasi bagi seluruh jajaran pemerintah daerah, khususnya para kepala SKPK, untuk memperbaiki kinerja dan meningkatkan disiplin kerja.
Pengamat pemerintahan daerah menilai, langkah tegas seperti yang disampaikan Zaman Akli merupakan bentuk peringatan penting agar birokrasi di tingkat kabupaten tidak terjebak dalam budaya kerja yang tidak produktif.
Konsistensi kinerja, menurutnya, menjadi kunci utama dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik.
Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan turut mengawasi kinerja para pejabat agar pelayanan publik berjalan optimal.
Transparansi dan akuntabilitas menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap pemerintah.
Dengan pernyataan tegas tersebut, publik kini menanti langkah konkret yang akan diambil oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya dalam menindaklanjuti persoalan ini.
Apakah akan ada evaluasi menyeluruh, rotasi jabatan, atau bahkan sanksi tegas terhadap pejabat yang tidak disiplin, menjadi hal yang dinanti dalam waktu dekat.
Yang jelas, pesan Wakil Bupati sudah sangat gamblang: tidak ada lagi ruang bagi pejabat yang bekerja setengah hati di lingkungan Pemerintah Kabupaten Abdya.



