Daerah
Beranda | Melalui POH CAKRA dan Buka Puasa Bersama, FKM Pasee Aceh Dorong Mahasiswa Perkuat Identitas Sosial Aceh

Melalui POH CAKRA dan Buka Puasa Bersama, FKM Pasee Aceh Dorong Mahasiswa Perkuat Identitas Sosial Aceh

LINEAR.CO.ID | LHOKSEUMAWE – Dalam semangat kebersamaan di bulan suci Ramadan, Forum Komunikasi Mahasiswa (FKM) Pasee Aceh menggelar kegiatan Buka Puasa Bersama (BUKBER) yang dirangkai dengan kegiatan POH CAKRA. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus dialog intelektual bagi mahasiswa dalam memperkuat peran dan kesadaran sosial di tengah dinamika kehidupan masyarakat Aceh.

Diskusi tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Muhammad Iqbal, S.H., M.H. dan Riski Hayatillah, S.ST., yang membahas tema “Eksistensi dan Kontribusi Gerakan Mahasiswa dalam Penguatan Nilai Demokrasi Keislaman dan Identitas Sosial Aceh.” Dalam pemaparannya, para narasumber menekankan bahwa gerakan mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk menjaga nilai-nilai demokrasi yang berlandaskan prinsip keislaman serta memperkuat identitas sosial masyarakat Aceh di tengah perubahan zaman.

Presiden FKM Pasee Aceh menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi momentum silaturahmi melalui buka puasa bersama, tetapi juga menjadi ruang literasi dan diskursus bagi mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa Aceh perlu terus memperkaya wawasan serta memperdalam pemahaman terhadap sejarah, nilai, dan identitas daerahnya.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menguatkan peran mahasiswa Aceh dalam membangun tradisi literasi dan diskusi yang kritis. Mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai demokrasi keislaman serta semakin mengenal dan merawat identitas sosial Aceh,” ujar Khussyairi (sigeum) Presiden FKM Pasee Aceh.

Dalam penyampaiannya, Riski Hayatillah, S.ST. menegaskan bahwa mahasiswa tidak hanya berfungsi sebagai kelompok akademik, tetapi juga sebagai kekuatan moral dan sosial yang memiliki peran penting dalam menjaga arah peradaban Aceh. Menurutnya, gerakan mahasiswa harus tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman serta kearifan lokal Aceh sebagai landasan dalam menyuarakan gagasan dan melakukan gerakan sosial.

Bukber Pramuka Aceh Timur, Puluhan Anak Yatim Terima Santunan

Riski juga menyampaikan bahwa terdapat identitas keacehan yang sering kali tidak disadari oleh mahasiswa Aceh sendiri, yaitu kekuatan nalar dan keberanian berpikir kritis. Ia mengutip ungkapan Aceh “sep meuaceh i semike ureng nyan”, yang menggambarkan bahwa orang Aceh dikenal memiliki daya pikir yang tajam serta keberanian dalam menyampaikan gagasan.

Menurutnya, karakter tersebut merupakan warisan nilai sosial dan historis masyarakat Aceh yang seharusnya terus dirawat oleh generasi mahasiswa saat ini. Ia menambahkan bahwa identitas sosial Aceh tidak boleh tergerus oleh arus globalisasi yang sering kali membawa perubahan tanpa mempertimbangkan nilai-nilai lokal. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memperkuat literasi sejarah, budaya, dan nilai keislaman agar mampu menjadi generasi yang tidak hanya kritis, tetapi juga memiliki kesadaran identitas yang kuat.

Dengan terselenggaranya kegiatan POH CAKRA yang dirangkai dalam momentum buka puasa bersama ini, diharapkan lahir gagasan-gagasan kritis serta kesadaran kolektif di kalangan mahasiswa untuk terus berkontribusi dalam pembangunan pemikiran, sosial, dan kebudayaan Aceh ke depan.

×
×