Abdya
Beranda | Dinas Pertanian dan Pangan Abdya Siapkan Kelompok Tani Untuk Dapur MBG

Dinas Pertanian dan Pangan Abdya Siapkan Kelompok Tani Untuk Dapur MBG

Foto : Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Aceh Barat Daya Hendri Yadi.

LINEAR.CO.ID | ACEH BARAT DAYA – Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Barat Daya terus meningkatkan daya saing pemasok lokal, khususnya komoditas sayur-mayur, guna memenuhi kebutuhan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dan juga kebutuhan masyarakat pada umumnya.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi daerah dalam menghubungkan petani dengan pasar yang berkelanjutan.

Kepala Dinas Pertanian Abdya, Hendri Yadi, menyampaikan bahwa pihaknya telah membentuk kelompok tani binaan yang bersifat mandiri.

Selain itu, pemerintah daerah juga tetap menyiapkan dukungan anggaran berdasarkan pengajuan resmi dari kelompok yang telah memenuhi persyaratan administrasi.

Hendri Yadi menjelaskan, saat ini Dinas Pertanian telah membentuk kelompok tani binaan dengan skema satu kecamatan satu kelompok.

Pertanahan Kembali Serahkan Setipikat Tanah ke 256 Masyarakat Tangan-Tangan Cut

“Aceh Barat Daya yang memiliki sembilan kecamatan berarti telah memiliki sembilan kelompok aktif yang berada di bawah pendampingan langsung dinas teknis,” kata Hendri Yadi, Selasa (27/1/2026).

“Kelompok ini tidak berhenti di sembilan saja. Kami akan terus mendorong pembentukan sebanyak mungkin kelompok baru agar kapasitas produksi daerah semakin kuat,” lanjutnya.

Menurutnya, pembinaan tidak hanya menyentuh aspek budidaya, tetapi juga manajemen usaha tani, perencanaan tanam, serta pemenuhan standar kualitas pangan.

“Pendekatan ini bertujuan agar petani mampu memenuhi kebutuhan dapur MBG secara konsisten,” imbuhnya.

Dikatakannya, setiap kelompok yang aktif dan memenuhi kriteria berhak mengajukan dukungan sesuai kebutuhan lapangan.

Bereaksi Dini Hari, Maling Bobol Kota Amal Mushalla Istiqomah

Lebih lanjut, Hendri juga menegaskan, komoditas hortikultura seperti gambas, kacang panjang, sayuran dan bahan pangan lainnya yang menjadi fokus utama karena memiliki peran penting dalam penyediaan menu sehat bagi penerima manfaat program MBG.

“Ketersediaan bahan segar dari wilayah sendiri dinilai mampu menekan biaya distribusi sekaligus menjaga kualitas pangan,” sebutnya.

Hendri menjelaskan bahwa petani lokal memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan tersebut apabila mendapat pendampingan yang tepat.

“Oleh sebab itu, dinas terus mendorong pola tanam terjadwal agar suplai tetap stabil sepanjang tahun,” katanya.

Dinas Pertanian juga berperan sebagai penghubung antara kelompok tani dan pengelola dapur MBG.

Kerbau Berkeliaran di Jalan, Peternak Abdya Dinilai Abai terhadap Hewan Peliharaan

“Skema kemitraan ini diharapkan mampu menciptakan kepastian pasar bagi petani sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku bagi penyedia makanan,” papar Hendri.

Melalui koordinasi lintas sektor, lanjutnya, dinas ingin memastikan hasil panen terserap langsung tanpa melalui rantai distribusi panjang.

“Langkah ini sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan memperkuat ekonomi desa,” sebutnya.

Lebih serius, Hendri menjelaskan, program MBG tidak hanya berorientasi pada pemenuhan gizi, tetapi juga berdampak pada pergerakan ekonomi daerah.

“Dengan memaksimalkan sumber daya setempat, pemerintah daerah berupaya menciptakan sirkulasi ekonomi yang sehat di tingkat kabupaten,” trangnya.

Hendri menyebutkan bahwa keterlibatan petani lokal dalam program nasional tersebut menjadi peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan.

“Kita merancang pembinaan kelompok tani ini secara jangka panjang. Setiap kelompok akan mendapatkan evaluasi berkala untuk melihat perkembangan produksi dan kendala di lapangan,” tegasnya.

Pendamping lapangan juga disiapkan untuk membantu petani dalam menghadapi tantangan teknis, mulai dari pengendalian hama hingga efisiensi penggunaan sarana produksi.

Ke depan, dinas menargetkan pembentukan kelompok baru di setiap kecamatan sesuai minat dan potensi wilayah. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan jaringan pemasok yang kuat dan saling melengkapi.

“Kami ingin petani benar-benar siap menjadi pemasok utama dapur MBG, bukan hanya hari ini, tetapi juga untuk jangka panjang,” ujar Hendri.

Dengan penguatan kapasitas petani dan optimalisasi kelompok binaan, Abdya menargetkan ketahanan pangan yang lebih mandiri.

Pemerintah daerah menilai kolaborasi antara petani dan program MBG sebagai model pembangunan pertanian yang inklusif.

Langkah tersebut sekaligus menjadi bukti komitmen daerah dalam mendukung program strategis nasional melalui pemberdayaan potensi lokal.

×
×