LINEAR.CO.ID | ACEH TAMIANG – Banjir melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh pada Senin (12/10/2026) setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut. Bencana ini dilaporkan berdampak pada sedikitnya tujuh kabupaten, merendam permukiman warga hingga mengganggu akses transportasi darat.
Ratusan kepala keluarga (KK) terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke lokasi yang dinilai lebih aman. Selain merendam rumah penduduk, banjir juga menggenangi sejumlah ruas jalan nasional sehingga menghambat mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.
Penanganan darurat kini dilakukan oleh pemerintah daerah bersama instansi terkait. Petugas gabungan dikerahkan untuk mendata dampak banjir, membantu proses evakuasi, serta memastikan keselamatan warga di wilayah terdampak.
Tanggul Sungai di Aceh Tamiang Jebol
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang, Imam Suheri, mengatakan ketinggian air di sejumlah lokasi terdampak telah mencapai lebih dari satu meter.
Saat dihubungi melalui telepon, Imam juga mengungkapkan bahwa banjir diperparah oleh jebolnya tanggul sungai sepanjang sekitar 15 meter di kawasan Marlempang, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang.
“Kerusakan lainnya 15 meter tanggul sungai di daerah Marlempang, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang jebol sehingga air cepat masuk ke kawasan permukiman warga,” ujarnya.
Jebolnya tanggul tersebut menyebabkan air dengan cepat mengalir ke kawasan permukiman, sehingga meningkatkan risiko bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.
Sebanyak 69 KK di Pante Kera Mengungsi
Dampak banjir juga dirasakan warga Desa Pante Kera. Kepala Desa Pante Kera, Sabilah, menjelaskan bahwa hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak Minggu pukul 04.00 WIB hingga Senin pukul 01.30 WIB.
Menurutnya, genangan air di kawasan permukiman mencapai sekitar satu meter. Warga yang tinggal di wilayah dataran rendah pun memilih menyelamatkan diri ke kawasan yang lebih tinggi.
“Banjir setinggi 1 meter, saat itu masyarakat mengungsi ke area yang lebih tinggi. Karena yang terendam banjir Dusun Alor Merbo, permukiman bawah, jadi warga mengungsi ke permukiman atas,” kata Sabilah.
Akibat kejadian tersebut, sebanyak 69 kepala keluarga meninggalkan rumah mereka untuk sementara waktu. Sebagian warga mengungsi ke rumah kerabat, sementara lainnya berpindah ke kawasan permukiman yang lebih tinggi guna menghindari genangan air.
Warga Diimbau Tetap Waspada
Di sejumlah wilayah terdampak, banjir tidak hanya mengancam tempat tinggal warga, tetapi juga mengganggu aktivitas sehari-hari akibat akses jalan yang terendam.
Pemerintah daerah dan petugas terkait terus melakukan pendataan terhadap warga terdampak serta memantau kondisi di lapangan. Bantuan kebutuhan dasar, termasuk bahan pangan, selimut, dan obat-obatan, menjadi bagian dari kebutuhan penanganan darurat bagi masyarakat yang mengungsi.
Warga diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan bertambahnya debit air, terutama apabila hujan kembali mengguyur wilayah Aceh dalam beberapa hari ke depan. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir juga diminta segera mencari tempat aman apabila kondisi di sekitar tempat tinggal memburuk.


