LINEAR.CO.ID| ACEH BARAT DAYA –Tim Panitia Khusus (Pansus) DPRK Aceh Barat Daya (Abdya) menemukan dugaan minimnya pemeliharaan saat melakukan tinjauan lokasi trafo yang meledak dan terbakar pada Senin (6-7-2026).
Dalam inspeksi tersebut, tim pansus memperoleh penjelasan langsung dari petugas PLN yang berada di lokasi.
Petugas menyebut ledakan dan kebakaran dipicu kabel yang terkelupas hingga memicu hubungan arus pendek pada instalasi trafo.
“Kondisi kabel yang terkelupas menjadi indikasi kuat bahwa sistem kelistrikan di lokasi tidak mendapatkan pemeliharaan secara rutin dalam kurun waktu yang cukup lama,” kata Zulkarnain saat melakukan pengecekan di RSUDTP.
Menurut Ukra, sapaan akrabnya, Tim pansus menilai kerusakan seperti itu tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang akibat minimnya perawatan berkala.
“Informasi yang kami peroleh dari petugas PLN di lokasi menyebutkan ledakan terjadi karena ada kabel yang terkelupas. Kondisi itu menunjukkan pemeliharaan terhadap trafo tidak berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Zulkarnain.
Insiden tersebut terjadi pada Sabtu, 4 Juli 2026, sekitar pukul 07.30 WIB. Ledakan diikuti kobaran api yang menghanguskan sebagian komponen trafo PLN yang berada di kawasan RSUD Teungku Peukan.
Akibat kejadian itu, pasokan listrik dari jaringan PLN ke rumah sakit sempat terhenti.
Aktivitas pelayanan kesehatan sempat bergantung pada sistem listrik darurat untuk menjaga operasional sejumlah fasilitas penting.
Petugas PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Blangpidie kemudian bergerak cepat melakukan identifikasi kerusakan dan penanganan agar pasokan listrik ke rumah sakit dapat kembali normal.
Temuan pansus ini membuka perhatian terhadap pentingnya pemeliharaan rutin terhadap instalasi kelistrikan, terutama di fasilitas pelayanan publik seperti rumah sakit.
Tim pansus berencana mendalami penyebab pasti insiden tersebut, termasuk menelusuri sistem pemeliharaan trafo dan pihak yang bertanggung jawab atas pengawasan instalasi listrik di RSUD Teungku Peukan.
Pansus juga meminta keterangan dari pihak manajemen rumah sakit serta instansi terkait untuk memastikan penyebab insiden sekaligus mengevaluasi standar perawatan sarana kelistrikan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Sementara itu, pihak manajemen RSUD Teungku Peukan melalui Kepala Bidang Penunjang Medis, T. Fakhruddin mengaku tidak ada perawatan dikarena pihaknya tidak mengerti terkait trafo tersebut.
“Kami tidak mengerti trafo ini, kami pikir itu tugasnya PLN, petugas di RSUD hanya memantau dan merawat terkait stabilitas arus, terkait trafo itu ya tidak kami mengerti,” katanya.
Sementara itu, proses perbaikan trafo tersebut masih terus berlangsung.


