Abdya
Beranda | Miris! Janda Dua Anak Asal Manggeng Bertahan di Rumah Berdinding Plastik

Miris! Janda Dua Anak Asal Manggeng Bertahan di Rumah Berdinding Plastik

Foto : Janda miskin asal kecamatan Manggeng tinggal di gubuk reot.

LINEAR.CO.ID | ACEH BARAT DAYA – Kondisi kehidupan seorang janda miskin bersama dua anaknya di Dusun Ujung Arun, Gampong Lhok Pawoh, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengundang keprihatinan mendalam. Kamis (16-04-2026)

Ditengah kondisi ekstrem, ibu dua anak tersebut hanya tinggal di sebuah gubuk dengan Berdinding Plastik dan papan yang sudah lapuk.

Potret ini bukan sekadar kisah lokal, melainkan cermin buram persoalan kemiskinan yang belum sepenuhnya terurai di Indonesia. Pada saat pembangunan fisik terus dipacu, masih ada warga yang harus bertaruh dengan hujan, angin dan dinginnya malam, demi sekadar bertahan hidup.

Pantauan di lokasi memperlihatkan kondisi rumah yang jauh dari standar kelayakan. Atap rumbia yang rapuh kerap bocor saat hujan turun, sementara dinding rumah, sebagian besar hanya dilapisi plastik bekas dan terpal. Struktur bangunan yang renta , membuat keselamatan penghuninya berada dalam ancaman setiap waktu.

Kepala Desa Lhok Pawoh, Amiruddin tak menampik kondisi memilukan tersebut. Ia mengakui bahwa keterbatasan anggaran desa, menjadi kendala utama dalam merealisasikan pembangunan rumah layak huni bagi warganya.

Abai Hasil Petani Lokal, Kehadiran Bulog Di Abdya Dipertanyakan

โ€œIni kondisi yang sangat memprihatinkan. Kami di desa terus berupaya membantu semampunya, tetapi untuk membangun rumah yang layak, tentu membutuhkan dukungan lebih besar, baik dari pemerintah daerah maupun para dermawan,โ€ ujarnya.

Selama ini, bantuan yang ada hanya bersifat swadaya dari masyarakat sekitar, sekadar memperbaiki bagian yang rusak agar tetap bisa ditempati. Namun, upaya itu jauh dari cukup, untuk mengangkat kualitas hidup keluarga kecil tersebut.

Sejak ditinggal suami, Munarwati harus memikul beban hidup seorang diri. Dengan pekerjaan serabutan, ia berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, sekaligus merawat kedua anaknya yang masih kecil di tengah kondisi hunian yang tak manusiawi.

Fakta ini menjadi pengingat keras bahwa persoalan kemiskinan bukan sekadar angka statistik, melainkan realitas hidup yang nyata dan mendesak untuk ditangani. Harapan kini tertuju pada kehadiran negara melalui instansi terkait, seperti Dinas Sosial dan Baitul Mal, agar segera turun tangan memberikan solusi konkret.

Di balik gemuruh pembangunan, kisah Munarwati menjadi alarm: masih ada rakyat yang belum benar-benar merasakan arti keadilan sosial.

Ketua Tani Merdeka Indonesia Minta Bulog Prioritas Beras Sarapan Pengusaha Lokal

ร—
ร—